Bulan lalu, tepatnya tanggal 5 Januari merupakan hari yang kelabu bagi keluarga kami. Tanggal itu merupakan tanggal peringatan atas kepergian papaku tercinta untuk menghadap sang Pencipta. Di setiap tanggal itu, kami yang ditinggalkannya selalu melow, walau adik laki-lakiku tidak pernah mau mengakui kesedihannya tapi aku tahu hati mereka sama dengan hatiku dan hati mamaku yang merindukan papa kami.
Tahun ini peringatan 15 tahun kepergiannya, jadi kami sepakat untuk pulang kampung ke Padang untuk mengunjungi makam papa kami. Tanggal 3 Januari kami semua balik ke Padang kecuali adikku yang ada di Banjarmasin menyusul pada tanggal 5. Rencananya kami ingin mengadakan makan dan doa bersama di rumah famili kami di Padang. Tapi sayang hal ini tidak bisa dilaksanakan berhubung famili kami tersebut akan ke luar kota untuk menghadiri perhelatan saudaranya.
Akhirnya kami memutuskan untuk memberi sumbangan makanan siang pada sebuah panti asuhan yang ada di Padang.
Pas tanggal 5 tersebut, pagi-pagi jam 7, aku bersama mamaku dan famili kami pergi ke makam papaku, kami berdoa di sana cukup lama. Tiba-tiba hati terasa perih sekali seakan semua memori kami bersama papa melintasi benakku. Kami masih merindukan gelak tawa dan candanya yang selalu menghiasi rumah kami di saat makan malam.
Papaku seorang pria gagah dan tampan yang periang sekali, banyak orang menyangka beliau adalah bintang film, bahkan ada yang bilang beliau mirip bintang film lama om Zainal Abidin. Tapi yang benar adalah papaku bekas kameraman film, memang beliau berwajah tampan sehingga orang sering salah pengertian mengatakan beliau bekas seorang bintang film.
Papa sangat mencintai aku dan adik-adikku, beliau tidak pernah memarahi kami kalau tidak sampai terpaksa. Beliau benar-benar menghangatkan suasana rumah dengan canda riangnya. Beliau mempunyai hobby nyetir mobil, akibatnya kami sering jalan-jalan ke luar kota sambil menyalurkan hobbinya juga reakreasi bersama keluarga.
Bahkan di saat-saat akhir hidupnya sebenarnya beliau,mama dan adik terkecilku merencanakan membawa mobil sendiri dari Padang untuk datang menjenguk aku dan adikku yang berkuliah di Jakarta sambil merayakan peringatan 25 tahun pernikahan mereka pada bulan Maret.
Rencananya dengan mobil kami akan melanjutkan perjalanan menuju Bali, gantian papa dan adikku menyetir mobil. Tapi rencana tinggal rencana kepergiannya menguncang jiwa kami semua, begitu cepatnya.
Aku masih ingat detik-detik terakhir menjelang kepergian papaku. Hari itu tanggal 4 Januari 1993 jam 5 sore, sepulang dari kantor aku mendapat kabar dari mama, kondisi papaku parah sekali, beliau kena stroke dan masuk rumah sakit. Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar berita itu.
Aku langsung ke kost adikku yang tidak jauh dari kostku, dia baru balik dari Padang menggunakan kapal Kerinci kemarin. Aku menceritakan kecemasan dan kekuatiranku atas kondisi papaku itu. Dia masih menghiburku dengan mengatakan papa pasti sembuh, tapi entah kenapa hatiku diselimuti ketakutan akan keadaan papaku. Aku sudah tidak bertemu dengan orang tuaku hampir 2 tahun lamanya, aku pikir karena mereka mau datang jadi aku tidak pulang saja berhubung juga aku sudah mulai bekerja parttime di sebuah perusahaan.
Malamnya aku dan adikku dijemput oleh kakak ibuku yang mengatakan kondisi papaku semakin parah dan kami disuruh pulang, pamanku membawa kami ke rumahnya supaya keesokan paginya kami bisa berangkat bersama beliau dan nenekku (ibu dari mamaku). Hatiku gelisah tidak menentu, ketakutan mengoyak hatiku, doa tidak putus-putus kupanjatkan kepada Tuhan demi kesembuhan papaku.
Tapi semakin larut malam semakin aku gelisah, akhirnya dengan berurai air mata aku berdoa kepada Tuhan, aku tidak mau melihat papaku menderita berkepanjangan jika memang sudah jalannya Tuhan ingin memanggil papaku menemani Dia di surga, aku merelakannya.
Tidak lama setelah doaku itu, kira-kira jam 3 subuh aku merasa seluruh tubuhku kaku tidak bisa bergerak dan aku melihat ada deru angin yang sangat kencang di ruang tengah yang berhadapan dengan kamar tidur. Sempat aku bingung kenapa ada angin kencang di ruang tengah karena bangunan yang berbentuk ruko seharusnya tidak bisa dimasuki oleh angin sekencang itu.
Tiba-tiba pintu kamar tidur kami terbuka (aku tidur dengan adikku dan nenekku) perlahan-lahan seakan tidak ingin mengganggu kenyenyakan tidur adikku. Aku melihat jam yang kebetulan berhadapan denganku waktu menunjukan jam 3.20 subuh. Kembali aku melihat ke arah pintu, saat itu aku merasakan kehadiran papaku yang sedang menatap aku dengan tersenyum. Padahal secara kasat mata aku tidak melihat perwujudan fisiknya, tapi aku tahu papaku di sana di dekat pintu masuk kamar tidur sedang memandangi kami semua sambil tersenyum lembut dan bahagia.
Semakin keras aku mendaraskan doa dalam hati kepada Tuhan, aku tidak bisa bersuara saat itu karenanya aku hanya memanggil papaku dalam hati. Cukup lama papa memandang kami, aku sempat melihat papa membelai rambut adikku dan aku melihat memang rambut adikku bergerak seperti ada orang yang membelainya.
Kira-kira jam 3.35 papa mulai berjalan menjauhi kami dan mendekati pintu kamar, beliau perlahan-lahan menarik knop pintu sambil memandangku dan tersenyum seakan-akan mewakili ucapan selamat tinggal dari beliau untukku. Dadaku terasa sakit sekali dan aku tidak mampu untuk menangis untuk mengungkapkan perasaanku. Dengan senyum yang manis seakan beliau tahu bagaimana cintanya aku pada beliau, perlahan-lahan beliau keluar dari kamar dan menutup pintu dengan hati-hati sambil tetap memandang kepadaku.
Tidak lama beliau keluar kamar, angin yang menderu-deru di ruang tengah berhenti dengan perlahan-lahan. Aku terus mendaraskan doa di dalam hati untuk papaku kepada Tuhan, dan saat itu aku sadar papaku sudah pergi untuk selamanya. Rasanya ada gumpalan kesesakan yang menghimpit hatiku, tapi tetap air mata tidak bisa keluar untuk mengungkapkan isi hatiku.
Akhirnya pada jam 3.58, aku bisa bergerak kembali, langsung aku berdiri dan keluar kamar menuju ruang tengah. Di sana aku terduduk di kursi dan tidak tahu harus berbuat apa, cukup lama aku merenungkan semuanya karena tidak tahan aku masuk kamar mandi dan langsung menyiramkan kepala dan badanku dengan air dingin untuk menghilangkan segala perasaan yang berkecamuk di kepala dan hatiku.
Setelah kira-kira 20 menit kemudian aku keluar kamar mandi ternyata di luar sudah menunggu paman dan bibiku yang memang biasa bangun pagi. Mereka menanyakan keadaanku, tapi aku tidak mampu menjawab apapun juga. tidak lama nenek dan adikku menyusul bangun. Aku ingin menyampaikan pada mereka semua bahwa papaku sudah pergi untuk selamanya, tapi entah kenapa mulutku terkunci dan tidak mampu berbicara.
Saat adikku hendak mandi, tiba-tiba mulutku bisa mengeluarkan suara dan aku memberitahukan kepada adikku bahwa papa kami sudah tidak ada lagi, tapi adikku memarahi aku dengan mengatakan aku terlalu pesimis, dia masih yakin papa kami sanggup bertahan.
Sekitar jam 5.30 pagi, tanteku (kakak mama) datang dan mengabarkan bahwa papa kami benar-benar sudah tidak ada, aku hanya bisa duduk terdiam saja. Begitu adikku keluar dari kamar mandi, aku mengatakan kepadanya bahwa benar perkataanku bahwa papa kami sudah tidak ada lagi.
Adikkupun terhenyak mendengar kabar ini, kami berdua tidak bisa mengatakan betapa sakitnya perasaan kami dan tidak mampu mengeluarkan air mata untuk mengungkapkan kepedihan hati kami. Aku melihat guratan kesedihan di mata adikku yang aku yakin itu juga ada di mataku. Keluarga yang bingung melihat keadaan kami berdua yang tidak bisa menangis dan hanya terpana menatap lantai. Sayup2 aku mendengar tangisan nenek dan tanteku tapi itu tetap tidak bisa mewakili air mata kami.
Saat kami melihat jenazah papa, kami berdua tidak mampu berkata apapun, dadaku terasa begitu sakitnya sehingga aku merasa tidak mampu bernafas lagi dengan normal. Keadaan ini berlanjut sampai jenazah papa di bawa ke kuburan untuk dimakamkan, hanya pas saat papa dimasukan ke liang kubur aku dan adik2ku berikut mamaku mengucurkan air mata dengan derasnya.
Tanganku tidak berhenti gemetar melihat jenazah papaku masuk ke sana, kondisi mamaku parah sekali dan tiba-tiba aku melihat dia menjadi tua sekali dalam sekejab mata. Aku mungkin tidak tahu betapa dalam kepedihan hati mamaku, tapi yang aku tahu dalam waktu 1 bulan setelah kepergian papaku rambut mamaku yang tadinya masih berwarna hitam berubah semua menjadi putih, di saat itulah aku mengerti bagaimana perasaan mamaku pada papaku, dan hingga kini beliau tidak sanggup untuk melupakan papaku dan tetap menangis setiap pergi ke kuburan papaku.
Dan di bulan Januari setahun kemudian nenekku (ibu mamaku) menyusul kepergian papaku. Sejak saat itu di setiap bulan Januari aku mempunyai perasaan yang melow sekali, makanya di bulan kemarin aku tidak sanggup menuliskan apa yang telah aku lalui dan nikmati selama ini karena setiap ingin menulis selalu saja air mata sudah mengintip ingin keluar.
Orang selalu mengatakan sudahlah papa kamu sudah berbahagia di sana jadi kenapa aku selalu menangis mengingat beliau, kadang aku juga mengatakan hal ini pada diriku tapi tetap saja aku tidak mampu menahan kesedihan setiap ingat pada papaku.
Kemarin pas bongkar-bongkar rumah aku menemukan foto lama papa dan mamaku, aku langsung memasang foto itu di ruang keluarga kami, sebagai kenangan akan kehadiran beliau di hati kami sampai kapanpun.