My Writting

February 19, 2008

Januari Kelabu

Filed under: Moments — sieklie @ 6:29 am

Bulan lalu, tepatnya tanggal 5 Januari merupakan hari yang kelabu bagi keluarga kami. Tanggal itu merupakan tanggal peringatan atas kepergian papaku tercinta untuk menghadap sang Pencipta. Di setiap tanggal itu, kami yang ditinggalkannya selalu melow, walau adik laki-lakiku tidak pernah mau mengakui kesedihannya tapi aku tahu hati mereka sama dengan hatiku dan hati mamaku yang merindukan papa kami.

Tahun ini peringatan 15 tahun kepergiannya, jadi kami sepakat untuk pulang kampung ke Padang untuk mengunjungi makam papa kami. Tanggal 3 Januari kami semua balik ke Padang kecuali adikku yang ada di Banjarmasin menyusul pada tanggal 5. Rencananya kami ingin mengadakan makan dan doa bersama di rumah famili kami di Padang. Tapi sayang hal ini tidak bisa dilaksanakan berhubung famili kami tersebut akan ke luar kota untuk menghadiri perhelatan saudaranya.

Akhirnya kami memutuskan untuk memberi sumbangan makanan siang pada sebuah panti asuhan yang ada di Padang.

Pas tanggal 5 tersebut, pagi-pagi jam 7, aku bersama mamaku dan famili kami pergi ke makam papaku, kami berdoa di sana cukup lama. Tiba-tiba hati terasa perih sekali seakan semua memori kami bersama papa melintasi benakku. Kami masih merindukan gelak tawa dan candanya yang selalu menghiasi rumah kami di saat makan malam.

Papaku seorang pria gagah dan tampan yang periang sekali, banyak orang menyangka beliau adalah bintang film, bahkan ada yang bilang beliau mirip bintang film lama om Zainal Abidin. Tapi yang benar adalah papaku bekas kameraman film, memang beliau berwajah tampan sehingga orang sering salah pengertian mengatakan beliau bekas seorang  bintang film.

Papa sangat mencintai aku dan adik-adikku, beliau tidak pernah memarahi kami kalau tidak sampai terpaksa. Beliau benar-benar menghangatkan suasana rumah dengan canda riangnya. Beliau mempunyai hobby nyetir mobil, akibatnya kami sering jalan-jalan ke luar kota sambil menyalurkan hobbinya juga reakreasi bersama keluarga.

Bahkan di saat-saat akhir hidupnya sebenarnya beliau,mama dan adik terkecilku merencanakan membawa mobil sendiri dari Padang untuk datang menjenguk aku dan adikku yang berkuliah di Jakarta sambil merayakan peringatan 25 tahun pernikahan mereka pada bulan Maret.

Rencananya dengan mobil kami akan melanjutkan perjalanan menuju Bali, gantian papa dan adikku menyetir mobil. Tapi rencana tinggal rencana kepergiannya menguncang jiwa kami semua, begitu cepatnya.

Aku masih ingat detik-detik terakhir menjelang kepergian papaku. Hari itu tanggal 4 Januari 1993 jam 5 sore, sepulang dari kantor aku mendapat kabar dari mama, kondisi papaku parah sekali, beliau kena stroke dan masuk rumah sakit. Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar berita itu.

Aku langsung ke kost adikku yang tidak jauh dari kostku, dia baru balik dari Padang menggunakan kapal Kerinci kemarin. Aku menceritakan kecemasan dan kekuatiranku atas kondisi papaku itu. Dia masih menghiburku dengan mengatakan papa pasti sembuh, tapi entah kenapa hatiku diselimuti ketakutan akan keadaan papaku. Aku sudah tidak bertemu dengan orang tuaku hampir 2 tahun lamanya, aku pikir karena mereka mau datang jadi aku tidak pulang saja berhubung juga aku sudah mulai bekerja parttime di sebuah perusahaan.

Malamnya aku dan adikku dijemput oleh kakak ibuku yang mengatakan kondisi papaku semakin parah dan kami disuruh pulang, pamanku membawa kami ke rumahnya supaya keesokan paginya kami bisa berangkat bersama beliau dan nenekku (ibu dari mamaku). Hatiku gelisah tidak menentu, ketakutan mengoyak hatiku, doa tidak putus-putus kupanjatkan kepada Tuhan demi kesembuhan papaku.

Tapi semakin larut malam semakin aku gelisah, akhirnya dengan berurai air mata aku berdoa kepada Tuhan, aku tidak mau melihat papaku menderita berkepanjangan jika memang sudah jalannya Tuhan ingin memanggil papaku menemani Dia di surga, aku merelakannya.

Tidak lama setelah doaku itu, kira-kira jam 3 subuh aku merasa seluruh tubuhku kaku tidak bisa bergerak dan aku melihat ada deru angin yang sangat kencang di ruang tengah yang berhadapan dengan kamar tidur. Sempat aku bingung kenapa ada angin kencang di ruang tengah karena bangunan yang berbentuk ruko seharusnya tidak bisa dimasuki oleh angin sekencang itu.

Tiba-tiba pintu kamar tidur kami terbuka (aku tidur dengan adikku dan nenekku) perlahan-lahan seakan tidak ingin mengganggu kenyenyakan tidur adikku. Aku melihat jam yang kebetulan berhadapan denganku waktu menunjukan jam 3.20 subuh. Kembali aku melihat ke arah pintu, saat itu aku merasakan kehadiran papaku yang sedang menatap aku dengan tersenyum. Padahal secara kasat mata aku tidak melihat perwujudan fisiknya, tapi aku tahu papaku di sana di dekat pintu masuk kamar tidur sedang memandangi kami semua sambil tersenyum lembut dan bahagia.

Semakin keras aku mendaraskan doa dalam hati kepada Tuhan, aku tidak bisa bersuara saat itu karenanya aku hanya memanggil papaku dalam hati. Cukup lama papa memandang kami, aku sempat melihat papa membelai rambut adikku dan aku melihat memang rambut adikku bergerak seperti ada orang yang membelainya.

Kira-kira jam 3.35 papa mulai berjalan menjauhi kami dan mendekati pintu kamar, beliau perlahan-lahan menarik knop pintu sambil memandangku dan tersenyum seakan-akan mewakili ucapan selamat tinggal dari beliau untukku. Dadaku terasa sakit sekali dan aku tidak mampu untuk menangis untuk mengungkapkan perasaanku. Dengan senyum yang manis seakan beliau tahu bagaimana cintanya aku pada beliau, perlahan-lahan beliau keluar dari kamar dan menutup pintu dengan hati-hati sambil tetap memandang kepadaku.

Tidak lama beliau keluar kamar, angin yang menderu-deru di ruang tengah berhenti dengan perlahan-lahan. Aku terus mendaraskan doa di dalam hati untuk papaku kepada Tuhan, dan saat itu aku sadar papaku sudah pergi untuk selamanya. Rasanya ada gumpalan kesesakan yang menghimpit hatiku, tapi tetap air mata tidak bisa keluar untuk mengungkapkan isi hatiku.

Akhirnya pada jam 3.58, aku bisa bergerak kembali, langsung aku berdiri dan keluar kamar menuju ruang tengah. Di sana aku terduduk di kursi dan tidak tahu harus berbuat apa, cukup lama aku merenungkan semuanya karena tidak tahan aku masuk kamar mandi dan langsung menyiramkan kepala dan badanku dengan air dingin untuk menghilangkan segala perasaan yang berkecamuk di kepala dan hatiku.

Setelah kira-kira 20 menit kemudian aku keluar kamar mandi ternyata di luar sudah menunggu paman dan bibiku yang memang biasa bangun pagi. Mereka menanyakan keadaanku, tapi aku tidak mampu menjawab apapun juga. tidak lama nenek dan adikku menyusul bangun. Aku ingin menyampaikan pada mereka semua bahwa papaku sudah pergi untuk selamanya, tapi entah kenapa mulutku terkunci dan tidak mampu berbicara.

Saat adikku hendak mandi, tiba-tiba mulutku bisa mengeluarkan suara dan aku memberitahukan kepada adikku bahwa papa kami sudah tidak ada lagi, tapi adikku memarahi aku dengan mengatakan aku terlalu pesimis, dia masih yakin papa kami sanggup bertahan.

Sekitar jam 5.30 pagi, tanteku (kakak mama) datang dan mengabarkan bahwa papa kami benar-benar sudah tidak ada, aku hanya bisa duduk terdiam saja. Begitu adikku keluar dari kamar mandi, aku mengatakan kepadanya bahwa benar perkataanku bahwa papa kami sudah tidak ada lagi.

Adikkupun terhenyak mendengar kabar ini, kami berdua tidak bisa mengatakan betapa sakitnya perasaan kami dan tidak mampu mengeluarkan air mata untuk mengungkapkan kepedihan hati kami. Aku melihat guratan kesedihan di mata adikku yang aku yakin itu juga ada di mataku. Keluarga yang bingung melihat keadaan kami berdua yang tidak bisa menangis dan hanya terpana menatap lantai. Sayup2 aku mendengar tangisan nenek dan tanteku tapi itu tetap tidak bisa mewakili air mata kami.

Saat kami melihat jenazah papa, kami berdua tidak mampu berkata apapun, dadaku terasa begitu sakitnya sehingga aku merasa tidak mampu bernafas lagi dengan normal. Keadaan ini berlanjut sampai jenazah papa di bawa ke kuburan untuk dimakamkan, hanya pas saat papa dimasukan ke liang kubur aku dan adik2ku berikut mamaku mengucurkan air mata dengan derasnya.

Tanganku tidak berhenti gemetar melihat jenazah papaku masuk ke sana, kondisi mamaku parah sekali dan tiba-tiba aku melihat dia menjadi tua sekali dalam sekejab mata. Aku mungkin tidak tahu betapa dalam kepedihan hati mamaku, tapi yang aku tahu dalam waktu 1 bulan setelah kepergian papaku rambut mamaku yang tadinya masih berwarna hitam berubah semua menjadi putih, di saat itulah aku mengerti bagaimana perasaan mamaku pada papaku, dan hingga kini beliau tidak sanggup untuk melupakan papaku dan tetap menangis setiap pergi ke kuburan papaku.

Dan di bulan Januari setahun kemudian nenekku (ibu mamaku) menyusul kepergian papaku. Sejak saat itu di setiap bulan Januari aku mempunyai perasaan yang melow sekali, makanya di bulan kemarin aku tidak sanggup menuliskan apa yang telah aku lalui dan nikmati selama ini karena setiap ingin menulis selalu saja air mata sudah mengintip ingin keluar.

Orang selalu mengatakan sudahlah papa kamu sudah berbahagia di sana jadi kenapa aku selalu menangis mengingat beliau, kadang aku juga mengatakan hal ini pada diriku tapi tetap saja aku tidak mampu menahan kesedihan setiap ingat pada papaku.

Kemarin pas bongkar-bongkar rumah aku menemukan foto lama papa dan mamaku, aku langsung memasang foto itu di ruang keluarga kami, sebagai kenangan akan kehadiran beliau di hati kami sampai kapanpun.

December 26, 2007

2007 almost end

Filed under: Moments — sieklie @ 8:39 am

Hari ini aku masuk bekerja, suasana kantor terasa lengang tidak seperti biasanya. Mungkin karena “hawa libur” sudah merasuki tiap-tiap orang yang masuk kantor hari ini. Jalanan juga tidak seperti biasanya dengan kemacetan yang merajalela di mana-mana. Benar-benar suasana terasa membuat orang ingin bermalas-malasan di tempat tidur.

Mendung masih menggelayuti langit seakan-akan merintih ingin menitikan air mata setiap saat. Angin berhembus kencang dan dingin, sesaat terasa menyejukkan tapi lebih lama membuat tubuh mulai tidak nyaman. Buru-buru aku berlalu untuk segera memasuki kantorku.

Begitu masuk kantor setelah meletakkan tas, kami semua langsung bersalam-salaman dengan teman-teman sambil mengucapkan “Selamat Natal” termasuk ucapan dari teman-teman yang beragama Muslim. Sungguh nikmat rasanya, sambil menikmati sarapan yang dibawa dari rumah dan singkong goreng yang diberikan teman…wow… hidup terasa sedemikian indahnya.

Duduk di meja kantor sambil mengecek email yang datang, dan suprise aku menerima email dari kemenakanku yang ada di amrik, aku selalu excited membaca tulisannya. Dia sungguh pandai bercerita dan aku menikmati setiap tulisannya. Ketika membaca tulisannya tiba-tiba aku jadi ingin intropeksi diri selama 1 tahun ini apa yang telah aku lakukan dalam perjalanan hidupku.

Dulu aku menyukai menulis kisah hidupku di buku harianku, tapi setelah bertambahnya usia dan kesibukan bekerja membuat aku males untuk menulis lagi. Tapi setelah membaca tulisan kemenakanku itu, tiba-tiba keinginan untuk menulis terasa mendesak jari-jari tanganku untuk memulainya. Kebetulan pekerjaanku tidak banyak dan aku mempunyai waktu yang cukup luang maka aku pikir tidak ada salahnya aku menulis sesuatu mengenai hidupku selama tahun 2007 ini.

Hanya media yang kugunakan berbeda dengan dulu ketika aku menggunakan buku diari, sekarang aku menggunakan blog dari wordpress ini untuk menulis perjalanan hidupku sepanjang 2007 ini karena aku ingin mensharingkannya juga kepada teman-temanku yang lain, siapa tahu mereka juga jadi terinsipirasi seperti aku untuk menulis perjalanan hidup mereka…hehehehe… Mulai deh aku bercerita dari bulan ke bulan apa yang terjadi dalam hidupku….

Bulan Januari 2007, harus aku awali dengan keberangkatanku ke Penang bersama sepupuku untuk berobat. Maklum tulang punggungku kembali “unjuk gigi” dengan membuat aku susah untuk duduk atau berjalan terlalu lama. Ini diakibatkan karena aku sedang memasuki tahap “masa pertumbuhan”…hehehe..  Kesimpulan dokter Penang supaya aku sembuh adalah aku harus menurunkan berat badan 20 kg plus aku harus menambah kepandaianku dalam berbahasa lain selain bahasa Indonesia dan Inggris yang patah-patah dalam pengucapannya.

Selama di Penang selain konsultasi dengan dokter di sana, aku juga cek darah, puji Tuhan test darahku semua normal. Tapi aku tidak jadi mau operasi “tahi lalat” yang ada di alis mata kananku yang kian hari kian membesar. Hehehe… ini disebabkan aku ingin sekali main di Genting dan Kualalumpur, takutnya waktunya tidak cukup kalau aku jadi dioperasi.

So aku menikmati berobatku berikut liburanku yang singkat di negeri jiran tersebut. Di setiap perjalananku ke tempat-tempat baru selalu membuka wawasanku untuk melihat bagaimana kehidupan dan budaya di tempat itu.

Di bulan ini juga aku memperingati setahun kepergian sukmuku (ipar papaku) menghadap Tuhan, suasana di rumah mereka terasa sepi walaupun sekarang ada tamu dan sanak keluarga yang hadir tetapi tetap kesunyian terasa kental sekali kehilangan sang pemersatu di rumah itu. Rumah mewah yang besar itu seakan-akan banyak menceritakan kisah sedih sepeninggal sukmuku. Lantunan lagu rohani memenuhi rumah seakan tidak bisa melarutkan kesedihan yang tersimpan di dada sepupu-sepupuku. Hanya waktu yang bisa membantu mereka, akan tiba saatnya mereka mengenang segala moments yang indah yang mereka lalui bersama dengan hati syukur karena beliau pernah hadir dalam hidup mereka sama dengan perasaanku kini yang sudah bisa bahagia mengenang papaku dan bersyukur beliau menjadi papaku yang paling hebat sedunia.:)

Bulan February 2007, terjadi bencana hebat di Jakarta, yaitu banjir. Sirklus 5 tahunan itu terjadi lagi di tanggal dan bulan yang sama pada tahun 2002 juga aku mengalami kebanjiran. Sesudah banjir tahun 2002, rumahku jadi dinaikan 80 cm dari asalnya, tapi ini tidak ada artinya untuk banjir tahun 2007.

Ketika tahun 2002 pas mengalami banjir aku bersama mama ada di rumah, tapi di tahun 2007 ini aku hanya sendirian di rumah karena mama lagi tinggal di Tangerang. Hari Jumat pagi tanggal 2 Februari 2007 air di jalanan depan rumah sudah tinggi hingga sedengkul orang dewasa sedangkan hujan masih mengguyur deras. Karena takut banjir masuk ke rumah aku tidak jadi masuk kantor.  Mulai barang-barang yang penting aku naikin ke gudang di lantai 2. Setelah itu aku tidur siang karena hujan sudah mulai mereda dan kebetulan punggungku sudah mulai kumat lagi sakitnya.

Mulai menjelang sore air mulai masuk ke pekarangan rumahku dan air di jalan sudah setengah paha orang dewasa, hujan masih turun. Pelan-pelan naik sehingga setinggi mata kaki, dan kura-kura piaraanku keluar dari “rumahnya” berenang-renang di pekarangan rumahku. Susah payah aku mengejarnya karena dia lincah sekali bergerak di dalam air, karena malas akhirnya aku biarkan saja dia berenang-renang.

Sekitar jam 8 malam, seluruh lampu dipadamkan di lingkungan rumahku dengan menggunakan lilin aku tiduran sambil was-was akan air yang memasuki rumah. Mama tidak berhenti menelpon menanyakan keadaanku, karena beliau tidak bisa datang dari Tangerang menuju Jakarta disebabkan macet total di jalan tol akibat kebanjiran yang cukup tinggi.

Ketika jam 10 malam aku terbangun dan menurunkan kakiku dari tempat tidur karena ingin ke kamar mandi, tiba-tiba kakiku terasa dingin sekali, yah ampun air sudah masuk ke dalam rumah, ketika aku berdiri sudah sampai semata kakiku. Sejak saat itu air terus naik sampai keesokan harinya mencapai sepinggang aku.

Aku tilpun truk kantor untuk menjemput barang-barang berharga yang ada di rumahku dan meminta kirim 2 orang untuk membantu aku mengangkat barang ke gudang. Tidak lama mobil yang menjemput aku datang dengan membawa 2 orang untuk membantu aku mengangkat barang. Waktu aku membuka pintu di luar air sudah tinggi sekali dan air tersebut sudah berwarna coklat berminyak. Aku masih sempat melihat ikan hias tetanggaku berenang di pekaranganku sebelum dilahap oleh kura-kuraku yang kelaparan.

Karena sebelumnya sudah pernah mengalami aku tidak lagi merasa jijik, ngeri dan takut kalau-kalau ada sesuatu yang akan mengigit di dalam air pekat itu. Setelah semua selesai dikerjakan truk dari kantorku datang untuk mengangkut barang, dan sekalian antar tetanggaku mengungsi ke rumah familinya. Aku tidak ikut truk karena aku sudah dijemput dengan mobil resto  sepupuku. Tapi sebelumnya aku harus tangkap dulu kura-kuraku yang sedang berenang-renang senang sekali. Untungnya kura-kura nakal itu kalau melihat aku selalu berjalan atau berenang mendekati, mungkin dia tahu karena aku suka memberi dia makan dulu pagi-pagi setiap hari sebelum pergi ke kantor.  Jadi menangkapnya lebih gampang dengan menekan dia pakai kakiku supaya dia tidak kabur baru setelah itu angkat tubuhnya. Dengan pasrah dia membiarkan aku mengeluarkannya dari dalam air coklat itu.

Setelah semua beres dan aku mengunci pintu, aku bersama supir dan pegawai resto berjalan keluar dari gang rumahku, yah ampun… gile bener deh. Sampai di jalan di luar gang, air sudah setinggi dada orang dewasa, aku berhubung memakai sepatu karet yang tebal tapaknya maka air itu hanya sampai di bawah dada. Dengan bersusah payah dan tidak memikirkan air yang menjijikan itu, aku berjalan kaki ke luar sampai di jalan besar. Semua pakaianku sudah basah dan hujan sudah reda tapi air tetap tidak surut juga.

Mobil ditaruh di Mal Taman Anggrek yang letaknya jauh dari rumahku membutuhkan waktu 1 jam berjalan kaki. Karena air tinggi dan banyak kendaraan besar yang lewat dan mencipratkan air maka kami ambil jalan melalui jalan tol, kebayang gak jalan kaki di tol dengan baju basah semua. Untung ada yang berbaik hati memberi kami tumpangan sehingga sampai di depan CitraLand dan aku harus menyebrangi pipa yang melintang di tengah perbatasan jalan tol dengan jalan biasa, udah kayak di film-film action saja, karena kalo sampai terpeleset dari pipa itu bisa hancur berkeping-keping ke bawah. Untung jaraknya cukup dekat dan pipanya cukup besar untuk bisa dijalani.

Akhirnya penderitaanku berakhir, dengan mobil resto kami melaju menuju Tangerang ke rumah perusahaan. Sejak saat itu aku tinggal di sana, hanya kembali pada saat pihak asuransi mau mengecek rumah dan bersih-bersihkan. Sekarang rumah itu sudah seperti rumah yang tidak berpenghuni. Tahun depan aku merencanakan untuk memperbaikinya sehingga layak untuk ditempati kembali.

Bulan Maret 2007, tidak ada kejadian yang spesial pada bulan ini semua berjalan seperti biasa dan rutinitas. Karena ini juga sudah tahun kedua aku memiliki NPWP (Nomor Wajib Pajak) so seperti tahun lalu aku harus melapor form SPT PPh 1721 S aku ke kantor pajak.

Bulan April 2007,  Memasuki masa prapaskah tahun ini aku merenungi banyak hal sejak kepindahanku ke Tangerang, aku sudah jarang ke gereja. Aku senang sekali karena ini tahun kedua mama dan adikku terkecil dipermandikan menjadi Katolik. So sekarang kami sekeluarga sudah menjadi keluarga Katolik kecuali almarhum papaku yang seorang Muslim.

Juga pada bulan ini  kata-kata “dahsyat” menyengat kupingku yang dilakukan oleh Pak Tung Desem Waringin melalui sebuah radio swasta di Jakarta. Karena penasaran aku ingin tahu apa sih yang bisa ditawarkan beliau dengan kata-kata “dahsyat” itu, so aku mengikuti seminarnya “Financial Freedom”.

Banyak hal yang aku dapatkan di seminar itu, menyadarkan aku akan banyak hal yang terlupakan dalam hidupku. Hal ini memacu aku untuk menjadi lebih baik lagi dalam mencari dan mengelola keuanganku untuk membuat hidupku lebih memadai.

Bulan May 2007, bulan ini sebagai salah satu bentuk perwujudan aku untuk mengelola dan mencari uang dengan baik. Aku ikut sebuah seminar mengenai internet marketing yang diberikan oleh Fabian Lim (Singaporean). Selama 3 hari di bootcamp itu aku banyak belajar mengenai dunia yang tadinya tidak aku ketahui sebelumnya. Saat itu aku juga menjalin hubungan pertemanan dengan Emylin Huang, P. Jusuf dan Mochtar dari Medan. Benar-benar sebuah dunia yang benar-benar berbeda dari sebelumnya, bahkan tadinya aku tidak tahu apa itu blog, wordpress, dsb. Mulai aku menapaki hidup baru dalam dunia maya yang selama ini aku hanya tahu mengenai email dan browsing serta friendster saja.

Akhir bulan ini berita duka cita harus diterima oleh keluarga besar mamaku, kakak perempuan beliau pergi untuk selamanya. Hati terasa sesak tidak menyangka Ji ieku pergi begitu saja padahal waktu beliau baru masuk rumah sakit aku dan mama sempat datang menjenguk beliau bahkan mama sempat janjian ama kakaknya itu kalo sudah sembuh mau pergi lihat pameran bunga di Lapangan Banteng bulan depan. Sayang harapan itu tidak terwujud sungguh sangat menyedihkan sekali.

Bulan June 2007, tragedi kembali menyelimuti keluarga besar mama, belum selesai kami berduka atas kepergian Ji ieku, disusul dengan kepergian suaminya 10 hari sesudahnya. Ya ampun serasa belum sempat kami menarik nafas, kami harus berada kembali di rumah duka. Sepupuku Ce Lily dan Ko Chandra sungguh luar biasa tabahnya, begitu bertubi-tubi bencana menerpa, mereka terlihat berusaha tegar dan tenang menghadapinya.

Satu demi satu orang tercinta kami pergi menghadap sang Pencipta dimulai dengan kepergian papaku di bulan Januari 1993, bulan September di tahun yang sama kepergian sepupuku Vonny dalam usia muda sekali 17 tahun, disusul pada bulan Januari 1994 popohku menyusul menemani menantu dan cucu kesayangannya di surga. Kini Ji ie dan omkupun menyusul orang tua mereka menempuh perjalanan ke surga agar bisa bersama dengan Tuhan di sana.

Dan dalam rangka menindaklanjuti pelajaranku bulan lalu, aku meluncurkan bermacam-macam blog, diantaranya www.aboutjuls.blog.com yang berisikan tulisan isengku mengenai cerita silat yang memang kegemaranku. Aku menulisnya karena memang suka saja gak mikirin apa ada yang baca ato tidak. Pokoke aku nulis saja yang jadi buah khayalanku.

 

Bulan Juli 2007, aku merayakan ultahku yang ke 38 tahun. Sungguh bukan usia yang muda lagi sudah menjelang 40 tahun. Tapi anehnya justru aku lebih merasa santai dan tenang saja merayakan ultahku yang semakin…. Orang tua, sanak saudara dan teman-temanku sudah ribut dengan statusku yang masih sorangan wae sampai sekarang. Dulu kalau hal ini disebut-sebut ada perasaan tidak nyaman di dalam hati, tapi kini aku bisa menertawakan semuanya bahkan bisa lebih santai dan cuek saja. Aku sudah bisa tertawa kala tanteku mengatakan bahwa aku bukan orang yang bertanggung jawab artinya aku tidak mau menerima tanggung jawab menjadi bagian dari kehidupan berkeluarga.

Bagiku, toh yang menjalani hidup ini aku, dan aku berprinsip hidup ini hanya sekali so aku mau menikmatinya dan aku ingin berbahagia karenanya. Jadi untuk apa aku harus memaksakan diri melakukan hal-hal yang tidak bisa membuat aku bahagia. Karena menurutku kebahagiaan itu datang dari dalam diri kita, tidak ada yang datang dari luar diri yang bisa membahagiakan kita selain Tuhan.

Jika kita dapat “the right man” mungkin hidup kita akan lebih baik dan kita akan bahagia, tapi kalau dapat sebaliknya, gimana? Kita masih manusia kok yang ingin hidup seegois mungkin tapi karena pilihan-pilihan hidup kita saja yang membuat kita harus banyak mentoleransi kehidupan ini.

So selama kita bisa menikmati arti kehidupan dan kebahagiaan bagi diri sendiri kenapa tidak? Karena jika kita bahagia kitapun akan membuat sekitar kita merasakan kebahagiaan kita, jika kita sedang susah maka lihatlah sekeliling akan banyak kesusahan lain yang menanti. Soal tanggung jawab relatif menurutku, yang penting dari sudut mana cara kita memandang sesuatu. Di balik gelap tersembunyi terang, di balik terang mengintip kegelapan.

Bulan Agustus 2007, aku bersama Fang2, Novi dan Cing2 pergi ke Singapura dan Malaysia. Dalam rangka liburan dan ingin menikmati hari-hari libur di negara orang. Dan entah kenapa Cing2 bisa mengajak aku jalan-jalan ke luar negeri, disusul dengan Fang2 dan Novi yang ingin bergabung. Kami berangkat dengan Air Asia melalui Batam dan kami sempat menginap di hotel perusahaanku yang ada di Batam. Cing2 menyusul keesokan harinya langsung ke Singapore berhubung ibunda tercintanya baru keluar dari rumah sakit so dia menunda keberangkatannya.

Selama di sana kami menikmatinya walau ada beberapa “kecelakaan” yang terjadi seperti saat kami perjalanan darat dari Singapore ke Malaysia, di Johor Bahru terjadi masalah dengan “Bee Ceng Hiang”…hehehe… ini rahasia kami tidak bisa aku ceritakan di sini.

Dan waktu kami kembali ke Singapore lagi, terjadi sebuah kejadian yang tak terlupakan olehku. Saat aku dan Cing2 sibuk mencari hotel yang kami inap, kami bertanya terus sepanjang jalan menuju hotel tersebut karena kami naik MRT dan bus sehingga harus bisa menentukan arah kami. Dan syukurnya orang di Singapore sangat baik hati mau menunjukan jalan bagi kami. Setelah turun dari MRT, kami harus sambung naik bus yang menuju hotel kami RHLC, sambil menunggu bis kami bertanya terus di mana letak hotel tersebut. Kami tidak sadar bahwa jalan yang disebut tempat hotelnya salah untuk ada petunjuk bahwa hotel itu di belakang hotel Shangrila.

Selama di bus kami sibuk juga menanyakan di mana kami harus turun supaya hotel tidak kelewatan, aku menanyakan kepada supir busnya dan supirnya tidak tahu. Tiba-tiba seorang cowok “bule” yang cukup cute menanyakan padaku apa yang menyusahkanku, dan entah bagaimana dia jadi ikut-ikutan sibuk membantu kami mencari di mana lokasi hotel itu. Dan berakhir dengan seluruh isi bus membantu kami mencari lokasi hotel itu, ternyata hotel itu ada di Stephen Road, yah ampun sampai matipun pasti tidak ketemu kalau salah carinya.

Pas di halte dekat hotel kami turun, berhubung kami berdua membawa bawaan 4 orang jadi kebayang donk beratnya. Keringat mengucur deras di seluruh wajah dan punggungku sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kesakitan. Tiba-tiba cowok “bule” cute itu berdiri di sampingku dan menanyakan “are you already married?”, aku yang gelagapan ditodong begitu langsung menjawab “not yet”.  Then dia bertanya apakah aku mau dia tolong angkatin tasku yang berat itu. Belum lepas kaget dan shockku dari pertanyaan pertama langsung membuat aku menjadi defensif, dengan menjawab tidak padahal saudara-saudara, aku sudah capek sekali.

Dia berlalu dari situ sambil tetap menoleh ke belakang melihat kami, setelah dia pergi Cing2 langsung mengomeli kebodohanku karena kami berdua sudah benar-benar kecapean banget. Emang sih nyesel juga sesudahnya tapi aku tidak biasa tiba-tiba ada cowok ingin menawari jasa setelah mempertanyakan statusku. Gile dalam hati aku kalo mau bantu yah bantu gak usah nanya macam-macam pikir aku dan pertanyaannya membuat aku shock banget, maklum orang kampung gak ngerti pergaulan di negeri orang. Mungkin kalau saat itu dia tidak menanyakan hal itu, sekarang kami sudah berteman. Abis mau gimana lagi, emang gak jodoh jadi teman…hehehe…

Tidak lama dari kepulanganku, mamaku berangkat ke Medan untuk melepaskan kepenatannya pasca resto Lotus ditutup.

Bulan September 2007, aku disibukkan dengan membuat parcel bareng Cing2. Walau teman-teman ex bootcamp sibuk telepon aku ajak ketemuan.

Dan ada suprise, ternyata cerita silat yang aku tulis di blog, disukai orang, ini membuat aku semangat untuk meneruskan tulisanku.

Bulan Oktober 2007, cihuy libur panjang, adikku Yanto pulang dari Banjarmasin. Dan kami menikmati liburan dengan makan dan belanja. Kebetulan teman baikku, Yuliani datang ke Jakarta dari Pekanbaru so kita ajak jalan-jalan deh tapi sayang dia tidak jadi inap di rumahku berhubung kemenakan dia ribut sang ie ie tidak boleh nginap di tempat orang lain.

Bulan Nopember 2007, kembali aku mengikuti seminar yang diadakan oleh TDW Resources kebetulan aku dapat discount untuk biaya seminar tersebut. Aku ikut GIS (Global Internet Seminar) di BBD Tower, banyak pelajaran berharga yang kudapatkan di seminar itu dan seperti biasa aku mendapat teman-teman baru lagi.

Sepulang dari GIS itu aku kembali mempublish sebuah blog dengan menggunakan wordpress. Isi blog www.julaihobbies.wordpress.com ini menceritakan tentang hobbyku yang aku rencanakan untuk aku komersialkan di tahun depan, seperti yang dikatakan oleh P. Tung Desem Waringin jadikanlah hobby kamu menghasilkan uang bukan untuk menghambur-hamburkannya.

Dan kelihatannya prospeknya memungkinkan untuk aku melakukan hal itu, karena aku sudah mempunyai orang yang berminat akan hobbyku ini. Ini termasuk rencanaku di tahun depan untuk menindaklanjuti hasil seminarku itu…hehehe…

Tapi bulan ini juga hampir menjadi tragedi bagi keluarga besar mamaku, sepupuku Evie, saat melahirkan anak ketiganya hampir saja menghadap sang Pencipta. Diakibatkan placentanya merobek kantung kemih dan dinding rahimnya sehingga darah keluar seperti air yang mengucur dari pancuran. Sungguh membuat bulu berdiri semua memikirkan hal ini, tapi kuasa Tuhan sungguh luar biasa dia terselamatkan dan anaknya juga bisa dilahirkan dengan selamat walau sampai hari ini masih di ruang inkubator untuk memulihkan kondisi fisiknya yang memang rapuh saat dilahirkan.

Mamaku berangkat lagi ke Medan untuk membantu menjaga resto Si ieku (mama Evie).

Bulan Desember 2007, mamaku pulang dari Medan setelah Si ieku membawa sepupuku Evie ke Medan untuk lanjutkan ke Penang. Karena sejak kejadian yang hampir merenggut nyawa sepupuku itu, Evie tidak bisa lagi ke belakang dengan normal, ini menyebabkan perutnya sakit.

Di Penang diperiksa ternyata kantong kemihnya kembali robek dan rahimnya bekas operasi di Jakarta mengalami infeksi, kembali dia harus dioperasi. Puji syukur operasi tersebut berjalan lancar dan sekarang dia dalam tahap pemulihan.

Kalau sebelum-belumnya aku pergi dengan teman-teman ke gereja saat Natal, tapi tahun ini aku ingin merayakannya bersama mama di gereja Kristoforus Jelambar Jakarta Barat. Hari Natal ini diawali dengan mamaku buru-buru buka televisi ambil chanel RCTI karena adikku, Edi, bersama koornya mengisi acara pagi misa di Vatican. Karena kami ketiduran acara nyanyi Edi tidak sempat kami tonton, acara sudah langsung misa di Vatican. Setelah acara misa selesai direlay dari Vatican, terjadi dialog antara romo dan pembawa acara sebelum diakhiri dengan nyanyian dari Penta Boys bersama Judika (Indonesian Idol).

Pas saat Penta Boys bernyanyi untuk menutup acara, mama dan aku baru melihat Edi berdiri menjulang di belakang teman-temannya sambil menyanyi mengiringi. Saat melihat dia di RCTI itu aku menyadari ternyata adikku setelah dia dipermandikan bulan Juni 2006 lalu membuat dia semakin dekat dengan Tuhan dan mau melakukan pelayanan. Adikku yang pemalu dan pendiam itu kini telah berubah demi memberikan pengabdiannya pada Tuhan. Sungguh membuat aku bangga sekali sebagai kakaknya, dan bersyukur kepada Tuhan dengan memberikan yang terbaik kepadaku sepanjang tahun ini.

Tahun depan sudah menjelang banyak rencana yang di tahun 2007 aku abaikan akan aku realisasikan, diantaranya paling utama adalah  menguruskan badan supaya lebih sehat dan mencari uang dengan cara yang benar menggunakan internet marketing, sedangkan yang lain akan menyusul nanti.

Di awal tahun depan aku sekeluarga akan pulang ke Padang untuk memperingati 15 tahun kepergian papaku dan kami akan bernostalgia semua memori yang indah pernah terjadi dalam hidup kami di sana bersama papa tercinta.

Selalu bersyukur dalam segala hal dari hal yang terkecil sekalipun yang kita rasakan dalam hidup ini membuat kita lebih bisa merasakan kenikmatan dan kebahagiaan serta menemukan apa yang kita cari walau tidak sempurna tapi mendekati yang kita harapkan.

Aku sudah mulai memahami makna dari kalimat di atas walaupun masih sering juga lupa dan tidak bisa melakukan dengan baik tapi tetap aku berusaha menikmati hidup ini dan berbahagia karenanya.

Penutup menjelang akhir tahun 2007.

 

 

 

Blog at WordPress.com.